MEDAN-wartaindonesia.org. Bagi Gen Z, isu politik bisa muncul di mana-mana: di TikTok, Instagram, YouTube, sampai grup WhatsApp keluarga. Baru membuka telepon, sudah ada potongan video, komentar pedas, dan perdebatan yang seolah tidak pernah selesai.
Namun, viral bukan berarti benar. Banyak komentar belum tentu mencerminkan fakta. Jangan sampai kita mengalami FOMO politik takut ketinggalan isu, hingga ikut berkomentar sebelum memahami duduk persoalannya.
Santai bukan berarti apatis. Santai adalah kemampuan menjaga akal sehat di tengah banjir informasi. Baca sumbernya, periksa konteksnya, lalu sampaikan pendapat dengan santun.
Serius: Jangan Hanya Ramai di Kolom Komentar.
Perkara Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi semestinya menjadi pelajaran bagi semua generasi bahwa demokrasi bukan sekadar urusan siapa yang menang atau kalah. Ada persoalan aturan, bukti, prosedur, transparansi, dan kepercayaan publik yang harus diperhatikan.
Bagi Gen Z tidak cukup hanya menjadi penonton politik atau sekadar netizen yang aktif berkomentar. Generasi muda perlu belajar membedakan fakta, opini, dugaan, dan putusan hukum. Jangan mudah terjebak echo chamber, yaitu lingkungan digital yang terus menyuguhkan pandangan serupa sehingga kita merasa pendapat sendiri pasti paling benar.
Kritis itu penting, tetapi kritis bukan berarti sinis. Berani bertanya itu baik, tetapi pertanyaan harus disertai data. Berbeda pendapat boleh, tetapi jangan sampai berubah menjadi perundungan digital.
Bagi pemerintah dan pejabat publik, pesan ini juga berlaku: kepercayaan generasi muda tidak cukup dibangun dengan pencitraan atau konten yang menarik. Kepercayaan tumbuh melalui kinerja, integritas, keterbukaan, dan keberanian mempertanggungjawabkan amanah.
Selesai: Bukan Berarti Berhenti pada Trending Topic
Setelah sebuah isu menjadi trending topic, apa yang tersisa? Apakah hanya tangkapan layar, saling sindir, dan pertengkaran di media sosial? Ataukah ada pelajaran yang mendorong perubahan?
Gen Z perlu mengubah perhatian menjadi partisipasi yang bermanfaat: memeriksa informasi sebelum membagikannya, mengikuti proses demokrasi, menyampaikan kritik berbasis data, dan ikut menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Pemerintah pun harus terus bekerja menjawab persoalan nyata: lapangan kerja, biaya pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pemberantasan korupsi. Jangan sampai energi bangsa habis untuk polemik, sementara pekerjaan rumah menumpuk.
Selesai bukan berarti berhenti mengawasi. Selesai berarti berhenti membuat kegaduhan yang tidak produktif, lalu bergerak menuju solusi.
Penutup
Negara ini bukan sekadar panggung politik para pejabat. Negara adalah rumah bersama bagi generasi tua, milenial, dan Gen Z.
Maka, mari kita jalankan rumus S-3: Santai dalam menyikapi, Serius dalam menganalisis, dan Selesai dengan tindakan yang solutif.
Jangan hanya menjadi generasi yang paling cepat membagikan berita. Jadilah generasi yang cermat memeriksa kebenaran. Jangan hanya ingin suara kita didengar. Belajarlah mendengar fakta dan pendapat orang lain.
Sebab, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang paling ramai di media sosial, melainkan oleh siapa yang bersedia berpikir jernih, bekerja nyata, dan menjaga tanggung jawab bersama.
Boleh viral, tetapi harus bernalar. Boleh kritis, tetapi tetap etis. Dan boleh berbeda, tetapi jangan berhenti merawat Indonesia.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat










