Scroll untuk baca artikel
#
banner 728x90
AkademikOpini

Republik “Gemah Ripah Loh Jinawi”: Kalau Tanah Begitu Kaya, Kenapa Dompet Warga Malah Sekarat?

13
×

Republik “Gemah Ripah Loh Jinawi”: Kalau Tanah Begitu Kaya, Kenapa Dompet Warga Malah Sekarat?

Sebarkan artikel ini

Secara makro, kita ada di kategori upper-middle income country. Tapi justru di situlah letak komedi gelapnya

Google Image. Negara Gemah Ripah Loh Jinawi
Google Image. Negara Gemah Ripah Loh Jinawi

MEDAN–wartaindonesia.org. Mari kita sepakati satu hal: Indonesia ini ibarat orang tua kaya raya yang mewariskan tambang emas, nikel, dan hamparan sawit seluas benua, tapi anak-cucunya di rumah justru rebutan token listrik setiap akhir bulan.

Negeri ini tidak miskin secara harafiah klaim sesat bahwa Indonesia adalah negara termiskin kedua di dunia sudah lama dimentahkan oleh data kredibel seperti Bank Dunia. Secara makro, kita ada di kategori upper-middle income country. Tapi justru di situlah letak komedi gelapnya: Negaranya kaya, statistik ekonominya mentereng, tapi rakyatnya tetap merasa hidup di bawah ancaman badai PHK dan cicilan yang tak berkesudahan.

1. Pajak Menopang Negara, Tapi Siapa yang Sebenarnya Menanggung Beban?

Struktur APBN kita ibarat panggung opera megah di mana penonton kelas bawah dan menengah menjadi sponsor utamanya. Pajak dan pungutan menyumbang porsi raksasa dalam isi kas negara.

Ironisnya, ketika rakyat patuh menyetor pajak pertambahan nilai (PPN) dari setiap bungkus mi instan atau liter bensin yang dibeli, kontribusi dari perut bumi dan perkebunan raksasa sering kali terasa menguap entah ke mana. Ibaratnya, rakyat kecil sukarela iuran bikin stadion, tapi giliran konser mulai, mereka cuma diizinkan jadi tukang parkir di luar pagar, melihat para elit pesta pora di tribun VIP.

2. Kutukan Tambang dan Sawit: Emasnya Terbang, Debunya Dibuang

Kita punya nikel yang bikin industri kendaraan listrik global klepek-klepek. Kita punya sawit yang minyaknya meluber ke separuh dunia. Tapi tanyakan pada warga di lingkar tambang atau buruh kebun sawit: apakah kesejahteraan ikut menetes ke kantong mereka?

Jawabannya sering kali bertepuk sebelah tangan. Yang mereka dapatkan di akar rumput bukanlah kemakmuran, melainkan jalanan rusak berlubang bekas truk hauling, krisis air bersih, dan udara yang dicemari polusi. Nilai tambah dari komoditas raksasa itu kerap kali meluncur mulus ke luar negeri atau hanya mempertebal rekening segelintir oligarki. Negara sibuk membanggakan angka ekspor, sementara warga lokal sibuk menghitung sisa saldo e-wallet demi bertahan hidup sampai gajian minggu depan.

READ  UPT SPF SDN 101873 Desa Baru Berbenah Diri Dukung Program Bupati Deli Serdang

3.Antara FOMO, Cemas Masa Depan, dan Pasrah Massal

Bagi generasi muda, realitas ini melahirkan sinisme sosial tingkat dewa. Mau bermimpi beli rumah di kota besar? Harga tanah sudah naik lebih cepat ketimbang kecepatan internet satelit. Mau investasi biar masa depan aman, yang ada malah terjebak inflasi dan biaya hidup yang meroket ugal-ugalan.

Kritik kita hari ini tajam dan tanpa tedeng aling-aling: Kekayaan alam Indonesia bukan properti pribadi sekelompok elite yang bisa dikapitalisasi sesuka hati.

Sudah saatnya hasil bumi dan kebijakan fiskal benar-benar berpihak secara radikal kepada keadilan sosial, bukan sekadar kosmetik laporan tahunan pemerintah. Sebab kalau tidak, jargon gemah ripah loh jinawi selamanya hanya akan menjadi lelucon satir terbaik di linimasa media sosial.

Kira-kira, butuh berapa ton lagi nikel yang dikeruk sampai dompet warga lokal ikut merasakan “menyala abangku” secara nyata?

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Lingkungan dan Sosial Masyarakat

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang