MEDAN-wartaindonesia.org. Sore itu, aroma kopi hitam racikan Wak Dollah menyeruak ke seluruh sudut warung. Kipas angin gantung berderit pelan, mengiringi riuh rendah percakapan enam insan yang berkumpul di meja panjang.
Wak Dollah sang empu warkop, Mbak Lastri penjaga gorengan hangat dan kue-kuean talam, serta trio komplek perumahan Bahagia, Dadang, Arief, dan Narko. Narko mengaduk kopinya dengan wajah lesu. “Aduh, agak prihaton hidupku pekan ini, Wak. Usaha rental mobil agak sepi, dompet makin tipis, anak-anak butuh biaya buku pula..,” ujar Narto
Dadang menyahut sambil menyomot bakwan, “Sama, Ko. Aku juga pusing, cicilan jalan terus tapi rezeki rasanya mampet.” Mbak Lastri yang baru meletakkan piring tahu isi langsung menyemprot, “Halah, kalian berdua ini kalau kumpul sukanya ngitung sial! Coba sesekali ngitung untung, pasti capek sendiri jari kalian!”
Pak Dermawan tersenyum tebal, membetulkan letak pecinya. “Nah, Mbak Lastri betul itu. Kadang kita ini pandai betul bikin tabel keluhan, tapi lupa bikin daftar syukuran.”
“Bener kali itu Pak Dermawan!” sela Wak Dollah sambil mendaratkan segelas kopi jos. “Ingat kata Allah dalam Surah An-Nahl ayat 18: ‘Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.’ Masalahnya, kita ini sering amnesia sama nikmat sendiri!”
“Nih ya.., ada tiga kategori nikmat & penyakit lupa syukur”. Ujar pak Dermawan. Arief yang dari tadi sibuk mengulir HP-nya ikut mendongak. “Amnesia gimana maksudnya, Wak? Kan kita tiap hari kerja keras menjeput rezeki dari Allah ?”
“Begini lho, Rief,” Pak Dermawan mengambil alih dengan lembut. “Imam Ibnul Qayyim pernah menjelaskan, nikmat itu garis besarnya ada dua, nikmat duniawi seperti kesehatan, harta, keluarga, udara segar, sampai bisa duduk santai makan tahu isinya Mbak Lastri sore ini.
“Ada lagi nikmat mutlak, nah, ini yang paling tinggi! nikmat Iman, Islam, Tauhid, serta petunjuk untuk berjalan di atas Sunnah. Harta bisa habis, kedudukan bisa lengser, tapi iman itulah bekal kekal ke akhirat.”
“Betul itu !” tambah Wak Dollah semangat. “Cobalah kalian bayangkan. Si Narto mengeluh usaha rental agak sepi, tapi matanya masih sehat bisa melihat, kakinya masih lengkap bisa mengayuh pedal gas, paru-parunya masih gratis menghirup oksigen tanpa perlu sewa tabung di rumah sakit! Itu nikmat besar apa kecil?”
Narto tersipu malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya… besar sih, Wak.”
“Makanya,” sambung Mbak Lastri sambil tersenyum. “Allah sudah janji di Surah Ibrahim ayat 7: kalau kita bersyukur, ditambah! Tapi kalau kufur alias tukang mengeluh… azab-Nya pedih! Mau ditambah nikmatnya atau ditambah pusingnya?”
“Tambah nikmatlah, Mbak Lastri!” sahut Narko cepat.
“Lalu gimana caranya biar kita enggak gampang ‘amnesia’ nikmat, Pak Dermawan?” tanya Arief penasaran.
Pak Dermawan merentangkan tiga jarinya, Pertama, bersyukur dengan hati, tancapkan dalam jiwa bahwa semua yang kita punya berasal murni dari Allah (QS. An-Nahl: 53). Jangan kepedean merasa pintar atau hebat sendiri.
Kedua, bersyukur dengan lisan, Perbanyak Alhamdulillah, dzikir, dan ceritakan nikmat sebagai wujud pengakuan karunia-Nya lihat pada QS. Ad-Dhuha: 11, bukan buat pamer di medsos!
Ketiga, Bersyukur dengan anggota tubuh, gunakan mata, telinga, tangan, dan harta untuk ketaatan. Harta diinfakkan, kesehatan dipakai salat berjamaah ke masjid, bukan cuma dipakai nongkrong sampai lupa waktu.
Wak Dollah menepuk pundak Dadang dan Narko. “Ingat ya anak, di zaman milenial ini jangan ukur bahagia cuma dari tebalnya dompet atau mewahnya rumah. Kesempurnaan Islam dan Hidayah itu nikmat terbesar lihatlah pada QS. Al-Ma’idah ayat 3. Orang kaya belum tentu bisa tidur nyenyak, tapi orang beriman yang bersyukur, minum kopi pahit pun rasanya manis!”
“Wah, pas kali itu Wak!” seru Narko. “Kalau gitu, sebagai wujud syukur sore ini… kopi kami dibayari Pak Dermawan ya?”
Gelak tawa pun pecah di Warkop Wak Dollah. Pak Dermawan hanya menggeleng-geleng sambil tertawa gembira, “Siap! Tapi syaratnya, habis ini langsung merapat ke masjid begitu dengar azan Maghrib!”
“Siap, Laksanakan Pak Dermawan!” jawab mereka serentak.
Penulis : Tauhid Ichyar
Pemerhati Sosial Masyarakat









