Scroll untuk baca artikel
#
banner 728x90
AkademikLingkungan

Fenomena Banjir Informasi: “Semakin Cerdas atau Hanya Senilai Jempol?”

13
×

Fenomena Banjir Informasi: “Semakin Cerdas atau Hanya Senilai Jempol?”

Sebarkan artikel ini

Hampir setiap hari kita disuguhi "Drama Nasional" baru. Dari kebijakan publik yang membingungkan, kelakuan influencer yang ajaib, sampai video potongan 15 detik yang bikin emosi jiwa.

Googl Image. Hati-hati Banjir Informasi
Googl Image. Hati-hati Banjir Informasi

MEDAN–wartaindonesia.org. Belakangan ini, ketika buka Media Sosial atau gulir timeline pagi-pagi, pola yang muncul selalu sama. Isu dimunculkan mendadak meledak, semua orang mendadak jadi pakar, kolom komentar berubah jadi arena baku hantam kata-kata, lalu dua hari kemudian… poof! Isunya hilang ditelan bumi, digantikan isu lain yang tak kalah heboh.

Hampir setiap hari kita disuguhi “Drama Nasional” baru. Dari kebijakan publik yang membingungkan, kelakuan influencer yang ajaib, sampai video potongan 15 detik yang bikin emosi jiwa. Di tengah keributan yang serba cepat ini, muncul satu pertanyaan jujur yang agak menyentil, “Apakah kita ini makin hari makin cerdas karena kelimpahan informasi, atau justru cuma makin gampang disetir netizen lain?”

Informasi Cepat, Analisis Kelas Jempol
Di era algoritma sekarang, kecepatan adalah raja, sedangkan kebenaran sering kali dianggap penumpang susulan. Asal judulnya bikin emosi, entah bikin marah, cemas, atau kasihan, langsung dibagikan tanpa sempat dibaca spansing penuh.

Akibatnya, kita sering terjebak dalam apa yang dinamakan confirmation bias. Bahasa sederhananya: kalau informasinya cocok sama selera atau kebencian kita, mau berita bohong sekalipun bakal disembah sebagai fakta mutlak. Tapi kalau informasinya beda pandangan, jangankan dibaca, akun penyebarnya langsung dicap “agen asing” atau “kurang piknik”. Daya kritis kita seolah lumpuh, digantikan oleh jempol yang refleks menekan tombol share.

Isu Penting Tenggelam, Yang Lucu dan Bikin Emosi Melayang

Dampak candu kegaduhan ini bukan cuma bikin ruang digital makin bising, tapi juga bikin kita lupa pada isu yang benar-benar krusial. Isu strategis seperti mutu pendidikan, nasib dompet dan ekonomi, kualitas hukum, sampai urusan perut, sering kalah pamor dibanding skandal artis atau potongan video yang dipotong tanpa konteks.

READ  Jendela Fajar : "Kehadiran Organ Jantung dalam Jasad Manusia"

Lucunya lagi, kepedulian kita di dunia maya itu mirip kayak umur story Instagram: cuma bertahan 24 jam. Kita bisa marah selebar-lebarnya di kolom komentar hari ini, tapi lusa sudah sibuk mengomentari isu lain yang sama sekali beda. Padahal, memperbaiki negara dan sistem sosial itu butuh pengawalan yang konsisten dan berbasis data, bukan sekadar “marah-marah terjadwal” di media sosial.

Kembalikan Tradisi Tabayyun dan Mikir Dulu Sebelum Share
Biar kita tak terus-menerus diputar-putar oleh narasi yang sengaja dibikin viral, sudah saatnya kita mengencangkan kembali sabuk daya kritis. Prinsip dasarnya sederhana: tabayyun atau konfirmasi. Jangan sampai kita jadi konsumen informasi pasif yang menelan mentah-mentah apa saja yang lewat di layar HP.

Sebelum meluncurkan komentar pedas atau membagikan suatu postingan, coba terapkan tiga saringan sederhana ini. Verifikasi Sumber: Yang ngomong ini siapa? Pakar yang paham bidangnya, atau cuma akun anonim yang kebetulan lagi cari panggung?

Bedakan Fakta dan Asumsi: Fakta itu ada datanya dan terukur, sedangkan opini itu cuma cara pandang apalagi kalau isinya cuma berdasarkan “katanya dan katanya”. Pikirkan juga, manfaatnya apa?, ini kalau disebar bakal bikin orang tambah paham dan bijak, atau cuma nambah kadar polusi emosi di media sosial?

Penutup
Media sosial dan teknologi sejatinya adalah sarana luar biasa untuk mencerdaskan bangsa. Tapi ingat, HP-nya boleh smart, pengguna dan pembacanya tentu harus jauh lebih smart.

Sudah saatnya kita berhenti jadi penonton yang gampang terseret arus FYP (For You Page) atau tren sesaat. Mari kita jadi warga digital yang lebih tenang, kritis, dan berani berpijak pada fakta. Sebab, suara yang bernilai bukan suara yang paling kencang berteriak, melainkan suara yang paling jernih dalam berpikir.

READ  PD. HIMA PERSIS Pelalawan Ajak seluruh Mahasiswa Tertib dan kondusif  Jelang Pilkada 2024

Penulis : Tauhid Ichyar
Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang