Scroll untuk baca artikel
#
banner 728x90
AkademikHukumNasionalPemerintah

Kekuasaan : Berhati-hatilah Ketika Kekuasaan Dikejar

15
×

Kekuasaan : Berhati-hatilah Ketika Kekuasaan Dikejar

Sebarkan artikel ini

Puncaknya, ketakutan kehilangan posisi memicu berbagai tindakan destruktif mulai dari manipulasi fakta, ketidakadilan yang terselubung, hingga rentetan kebijakan zalim yang dibungkus rapi atas nama "demi kemaslahatan umum."

Google Image. Berhati-hatilah Dengan Kekuasaan
Google Image. Berhati-hatilah Dengan Kekuasaan

MEDAN-wartaindonesia.org. Kekuasaan sering kali bertindak mirip obat pemikat, berawal dari niat mengabdi, lalu perlahan memabukkan. Saat kursi empuk makin nyaman diduduki, orientasi kepemimpinan yang tadinya mencari ridha dan kebaikan bersama bergeser menjadi ambisi personal.

Puncaknya, ketakutan kehilangan posisi memicu berbagai tindakan destruktif mulai dari manipulasi fakta, ketidakadilan yang terselubung, hingga rentetan kebijakan zalim yang dibungkus rapi atas nama “demi kemaslahatan umum.”

Padahal, dalam banyak ajaran dan sejarah, jabatan sejatinya adalah ujian berat (fitnah) dan beban amanah, bukan trofi untuk disombongkan. Ketika seseorang kehilangan kepekaan nurani, segala cara dihalalkan demi mempertahankan kedudukan.

Dampaknya tak pernah berhenti pada si pemangku jabatan semata. Sikap tamak ini merembet, memecah belah keharmonisan masyarakat, memudarkan keimanan, dan menggerogoti tatanan sebuah bangsa dari dalam.

Penting untuk disadari bahwa tahta selamanya tak akan pernah abadi. Tanpa niat yang lurus, pegangan iman yang kokoh, serta kesadaran bahwa seluruh wewenang akan dipertanggungjawabkan kelak, kekuasaan yang dikejar secara berlebihan hanya akan berubah menjadi beban sejarah dan kehancuran diri sendiri.

Ketakutan akan kehilangan tahta adalah racun paling mematikan bagi seorang penguasa. Ketika rasa takut itu mendominasi, akal sehat pelan-pelan mati, digantikan oleh paranoia. Siapa saja yang berani bersuara kritis tak lagi dipandang sebagai mitra penyeimbang, melainkan musuh negara yang harus disingkirkan.

Di titik inilah hukum diacak-acak, keadilan diputarbalikkan, dan aparat diperalat untuk menangkap tanpa proses peradilan yang sah—semua dilakukan secara sistematis di bawah payung “menjaga ketertiban umum.” Padahal, dalam kacamata spiritual maupun sejarah, kekuasaan tak lebih dari sekadar fitnah sebuah ujian berat yang sering kali melenakan.

Jabatan memberikan ilusi kehormatan dan kenyamanan, namun sekaligus mengikis rasa kemanusiaan jika tak disertai keimanan yang kokoh. Penguasa yang sudah terjangkit fitnah ini akan menganggap kursi kekuasaannya sebagai milik pribadi yang wajib dipertahankan sampai mati, meski harus membakar rumahnya sendiri.

READ  KH. M. Nuh Anggota DPD RI Tinjau Langsung Sentra Produksi Terasi di Silau Laut

Namun, sejarah tak pernah ramah pada kesombongan. Tak ada rezim zalim yang benar-benar abadi, setinggi apa pun benteng yang mereka bangun dan sekuat apa pun narasi palsu yang mereka sebar.

Ketika kekuasaan dikejar dan dipertahankan dengan menghalalkan segala cara, penguasa tersebut sejatinya tidak sedang membangun warisan keagungan, melainkan sedang menggali lubang kehancurannya sendiri dalam lembaran sejarah. Maka berhati-hatilah dengan fitnah kekuasaan.

Penulis : Tauhid Ichyar
Pemerhati Lingungan dan Sosial Masyarakat

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang