Scroll untuk baca artikel
#
banner 728x90
ReflektifReligi

Di Jalan Kesabaran

171
×

Di Jalan Kesabaran

Sebarkan artikel ini

Menjaga Sabar di Antara yang Pergi dan yang Tinggal

Di Jalan Kesabaran

Tidak semua kehilangan datang dengan suara keras. Ada yang hadir perlahan, nyaris tanpa aba-aba. Kursi yang kosong, pesan yang tak lagi dibalas, atau rutinitas yang tiba-tiba berubah arah. Di titik-titik sunyi itulah sabar diuji—bukan sebagai slogan, melainkan sebagai sikap hidup yang harus dijalani.

Sabar sering disalahpahami sebagai diam tanpa rasa. Padahal sabar justru hadir ketika rasa itu ada, penuh, dan menekan. Ia bukan meniadakan kesedihan, tetapi menahan diri agar kesedihan tidak menjelma menjadi keluh kesah yang menjauhkan manusia dari kepercayaan kepada Tuhan.

Al-Qur’an tidak menempatkan sabar sebagai beban, melainkan sebagai jalan meminta pertolongan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Ayat ini tidak menjanjikan bahwa ujian akan segera selesai, tetapi menegaskan satu hal yang jauh lebih menenangkan: dalam kesabaran, manusia tidak sendirian. Ada kebersamaan Ilahi yang menyertai, meski tidak selalu terlihat.

Dalam praktiknya, sabar jarang tampil dalam bentuk besar. Ia sering hadir dalam keputusan-keputusan kecil—menahan amarah, menjaga lisan, tetap menunaikan kewajiban meski hati sedang berat. Sabar adalah kemampuan untuk tidak bereaksi berlebihan saat keadaan tidak sesuai harapan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesabaran sejati tampak pada saat pertama kali musibah menimpa. Artinya, sabar bukan sekadar bagaimana seseorang terlihat tegar setelah waktu berlalu, tetapi bagaimana ia menjaga sikap ketika luka masih terasa segar. Pada fase itulah, sabar benar-benar bekerja.

Kehilangan, dalam bentuk apa pun, sering kali mengguncang batas kesabaran manusia. Namun sabar tidak menuntut seseorang untuk berpura-pura kuat. Ia hanya meminta agar hati tetap jujur dan lisan tetap terjaga. Menangis bukan lawan dari sabar, tetapi memberontak terhadap takdirlah yang sering membuat manusia kehilangan arah.

READ  Kehadiran Angin

Dalam sabar, ada pelajaran penting tentang menerima bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki selamanya. Ada yang memang dititipkan untuk menguatkan, lalu diambil kembali untuk mendewasakan. Sabar menjaga agar perpisahan itu tidak berubah menjadi kekecewaan yang berkepanjangan.

Barangkali sabar tidak langsung mengubah keadaan. Namun ia menjaga hati agar tidak runtuh sepenuhnya. Ia menuntun langkah agar tetap bergerak, meski perlahan. Dan pada waktunya, sabar menumbuhkan ketenangan—bukan karena semua telah kembali seperti semula, tetapi karena hati telah belajar menerima dengan lapang.

Pada akhirnya, sabar bukan tentang menunggu tanpa arah. Sabar adalah berjalan sambil percaya, bahwa Allah tidak pernah salah menakar beban hamba-Nya, dan tidak pernah meninggalkan mereka yang memilih bertahan dengan adab.

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang
   
banner 728x90