Scroll untuk baca artikel
#
banner 728x90
ReflektifReligi

Belajar Ikhlas dari yang Pergi

179
×

Belajar Ikhlas dari yang Pergi

Sebarkan artikel ini
Belajar Ikhlas dari yang Pergi

Sejak kepergian itu, rumah terasa lebih luas. Terlalu luas, sampai suara langkah sendiri terdengar asing. Kursi di sudut ruang tamu masih di tempatnya, tapi tak lagi punya fungsi selain menampung kenangan. Aku sering duduk di sana, bukan untuk menunggu—hanya untuk mengingat.

Kehilangan memang tidak selalu datang dengan tangis. Kadang ia hadir pelan, dalam kebiasaan kecil yang tiba-tiba tak punya pasangan. Dua gelas kopi yang kini cukup satu. Pintu yang tak lagi diketuk. Pesan yang tak lagi dinanti balasannya.

Aku sempat marah. Bukan pada keadaan, tapi pada diri sendiri. Merasa belum cukup. Merasa masih banyak kata yang tertahan. Doa yang belum sempat diucap. Saat itulah aku sadar, kehilangan sering kali bukan soal siapa yang pergi, tapi tentang apa yang belum selesai di hati kita.

Suatu sore, aku membuka mushaf tanpa niat mencari apa pun. Lembarannya berhenti pada ayat yang seolah dibaca untukku:

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 156)

Ayat itu sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Tapi justru di situlah beratnya. Jika benar semua milik Allah, maka apa hak kita untuk menahan yang memang sedang dipanggil pulang?

Ikhlas ternyata bukan tentang tidak merasa sakit. Ikhlas adalah menerima bahwa rasa sakit itu ada—tanpa menyalahkan takdir. Kita boleh sedih, boleh menangis, bahkan boleh merasa hancur. Rasulullah ﷺ pun menangis saat kehilangan orang yang dicintainya. Namun beliau mengingatkan, bahwa hati boleh bersedih, mata boleh menangis, tapi lisan tetap dijaga dalam ridha.

Aku belajar pelan-pelan. Ikhlas bukanlah keputusan sekali jadi. Ia proses yang datang dan pergi. Ada hari ketika aku merasa kuat, ada hari ketika rindu datang tanpa permisi. Dan itu tidak apa-apa. Karena sabar bukan berarti menekan perasaan, tapi menata arah perasaan agar tidak menjauh dari Allah.

READ  Silaturrahim Ulama Thariqah Se-Asean, Tuan Guru Batak Kutip Menteri Agama RI, Suluk Jalan Menuju Allah

Ada satu doa yang kini sering kupanjatkan, bukan agar rasa kehilangan dihilangkan, tapi agar aku mampu menjaganya dengan benar. Agar cinta yang tertinggal tidak berubah menjadi keluh kesah. Agar rindu tidak menjelma penolakan terhadap ketetapan-Nya.

Aku teringat satu hadits yang dibisikkan guru kepadaku dulu:

“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian.”

Mungkin kehilangan adalah cara Allah memperluas hati kita. Mengosongkan satu ruang, agar kelak bisa diisi dengan kedekatan yang lebih jujur kepada-Nya. Karena ada cinta yang memang tidak dimaksudkan untuk dimiliki selamanya—hanya dititipkan, lalu diambil kembali dengan cara paling lembut atau paling mengejutkan.

Kini aku masih duduk di kursi yang sama. Tapi tidak lagi untuk menunggu. Aku duduk untuk mendoakan. Untuk menyerahkan. Untuk percaya bahwa apa yang diambil Allah, tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya berpindah ke tempat yang lebih aman.

Dan di situlah aku belajar ikhlas: bukan dengan melupakan, tapi dengan merelakan. Karena pada akhirnya, yang kembali kepada Allah, sedang pulang. Dan yang ditinggalkan, sedang diajarkan untuk percaya sepenuhnya.

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang
   
banner 728x90