Scroll untuk baca artikel
#
banner 728x90
AkademikReligi

Masa Senja : Semakin Tua, Semakin Bertambah Bijaksana

16
×

Masa Senja : Semakin Tua, Semakin Bertambah Bijaksana

Sebarkan artikel ini

Sebuah alur kehidupan yang mengembalikan manusia pada kelemahan setelah sebelumnya diberi puncak kekuatan,saat keluar dari rahim ibu.

Google Image. Orangtua Yang Bijaksana
Google Image. Orangtua Yang Bijaksana

MEDAN-wartaindonesia.org. Umur berjalan bagaikan periode zaman yang melintasi waktu demi waktu, bagaikan air sungai yang mengalir deras dari hulu ke hilir. Sebuah perjalanan satu arah tanpa tiket pulang tak akan pernah bisa berputar kembali. Tanpa kita sadari, setiap kali lembaran kalender berganti dan angka usia bertambah, sesungguhnya ada “kuota” porsi hidup kita di dunia yang berkurang dan hilang selamanya.

Wajah Gagah yang Pelan-Pelan “Di-Logout” oleh Waktu.

Ada ironi dan sedikit cerita lucu dalam perjalanan fisik manusia. Hari ini, kita mungkin bertemu dengan sahabat, kerabat, atau kolega bisnis dengan penampilan yang luar biasa prima, pakaian necis, rambut tersisir rapi, tutur kata penuh retorika, cara berjalan tegap, serta aura gagah dan berwibawa. Rasanya dunia seperti ada di genggaman.

Namun, takdir-Nya, bertemu lagi di lain kesempatan beberapa tahun kemudian. Pemandangannya sering kali bikin kita tersenyum kecut sekaligus elus dada. Rambut yang dulu hitam berkilau kini full beruban, langkah kaki yang dulu gagah berubah tertatih-tatih, ingatan mulai loading lama alias makin banyak lupa, bicara mulai lelo, dan sosok yang dulu terlihat perkasa kini tampak kuyuh dan loyo.

Itulah Sunnatullah, sang umur yang diam-diam sedang menggerus ketangguhan fisik. Dari titik ketidak berdayaan, saat keluar dari rahim ibu, tumbuh jadi anak-anak, mekar sebagai pemuda gagah yang merasa bisa menaklukkan dunia, hingga akhirnya perlahan memasuki usia paruh baya, senja, dan uzur.

Sebuah alur kehidupan yang mengembalikan manusia pada kelemahan setelah sebelumnya diberi puncak kekuatan: stamina ngedrop, ketetapan hati memudar, bahkan sifat lahiriah dan batiniah ikut berubah.

Pesta Pora Saat Kuota Hidup Makin Menipis

Di sinilah letak kelucuan sekaligus keprihatinan dari cara pandang manusia terhadap umur. Setiap kali tanggal kelahiran tiba, banyak orang bersuka cita secara berlebihan. Mengundang kerabat, mentraktir sahabat, tiup lilin, lalu berpesta meriah.

READ  KAMMI Padang Lawas Utara Akhirnya Deklarasi dan Berlayar.

Padahal, kalau dipikir-pikir pakai logika sederhana, apa yang sebenarnya sedang dirayakan? Jawabannya, jatah sisa umur kita di bumi baru saja dipotong satu tahun! Ibarat kuota internet tinggal 1 GB, tapi kita malah bikin pesta selamatan walau kuotanya makin menipis.

Kondisi ini sungguh bertolak belakang dengan sikap para salafus shalih dahulu. Bagi mereka, bergantinya hari dan bertambahnya angka usia justru mendatangkan rasa cemas dan kesedihan yang mendalam.

Mereka bukan sedih karena takut keriput atau takut tua, melainkan khawatir dan malu jika hari-hari berlalu tanpa diisi amalan shalih, sementara batas ajal kian mendekat dan “bekal pulang” yang dikumpulkan masih sangat jauh dari cukup.

Waktu Adalah Pedang, Jangan Sampai Kita yang Tertebas

Pepatah Arab secara tajam mengingatkan bahwa waktu adalah pedang. Jika kita tidak memotongnya dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat, maka waktulah yang akan memotong dan membinasakan kita.

Menunggu satu waktu saja tanpa makna, atau menghabiskan jam demi jam hanya untuk scrol media sosial tanpa arah, adalah bentuk kesia-siaan yang amat mahal harganya.

Umur sesungguhnya adalah karunia terbesar sekaligus amanah paling berharga. Karena statusnya sebagai amanah, kelak di hadapan Rabb-nya, setiap detik, menit, dan fase usia yang diberikan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.

Sungguh, seseorang perlu memperhatikan adab dalam menjalani fase-fase usianya. Sungguh menggelikan sekaligus menyedihkan jika melihat orang yang sudah berkepala lima atau enam, tapi perilakunya masih bertingkah seperti remaja yang mencari jati diri.

Ketidaksesuaian menjalani fase usia ini sering kali membuat seseorang “menolak tua” pada tempat yang salah, sehingga perilakunya menjadi buruk dan menjauh dari akhlak yang mulia.

Mumpung Belum Finish, Memperbaiki Diri di Masa Senja

READ  Jendela Fajar : Peristiwa Besar Isra' Mi'raj

Mungkin di masa kanak-kanak atau ketika muda dulu, kita pernah lalai, santai, dan terlalu terlena dalam menjaga amanah umur. Namun, tidak ada kata terlambat untuk putar balik. Walaupun masa tua diidentikkan dengan penurunan fisik dan kelemahan, justru di masa-masa inilah kesempatan emas untuk berusaha lebih keras.

Masa tua hendaknya menjadi fase perenungan dan pembenahan, bukan malah makin sibuk mengejar gengsi duniawi yang sebentar lagi ditinggalkan. Mari kita isi sisa waktu yang ada dengan melipatgandakan ibadah, memperbanyak amalan shalih, serta makin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang