Scroll untuk baca artikel
#
AkademikDramaHistoriLifestyleLingkunganRagamReligi

Emak, Sosok Cahaya Kasih Sayang Yang Tak Pernah Padam

30
×

Emak, Sosok Cahaya Kasih Sayang Yang Tak Pernah Padam

Sebarkan artikel ini

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."

Google Image. Emak Dirawat di RS
Google Image. Emak Dirawat di RS

MEDAN-wartaindonesia.org. Emak masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya, sementara napasnya sesekali terdengar berat. Sudah tiga hari beliau dirawat akibat serangan asma yang kambuh di tengah musim hujan.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra’: 23)

Dokter mengatakan kondisinya mulai membaik dan sudah diperbolehkan pulang. Namun, sebagai anak, hati ini belum sepenuhnya tenang.
Aku masih ingin Emak tetap berada di rumah sakit beberapa hari lagi. Kekhawatiran itu sulit dijelaskan. Di rumah, cucu-cucunya Nidar, Nyta, dan Maryam sangat menyayanginya.

Mereka senang mengajak Emak berbincang hingga lupa bahwa tubuh renta itu membutuhkan banyak istirahat. Padahal, sejak usia lanjut, tidur malam menjadi kebutuhan yang tidak tergantikan.

Sambil memijat perlahan kedua kakinya dengan minyak kayu putih, Emak menatapku dan bertanya dengan suara lirih,
“Mana anak-anakmu, Zan? Sejak pagi belum terdengar suara mereka.”
“Tadi pagi mereka sudah datang, Mak. Emak masih tertidur karena semalam kurang nyenyak.

Insya Allah nanti siang mereka datang lagi,” jawabku.
Wajahnya tampak sedikit lega. Beberapa saat kemudian beliau kembali berkata,
“Zan… Mak rindu Ayahmu. Tadi malam Mak bermimpi beliau datang. Tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum.”

Kalimat sederhana itu seketika membawaku kembali puluhan tahun ke belakang, ketika Ayah wafat dan meninggalkan Emak berjuang membesarkan enam orang anak seorang diri.
Saat itu aku masih duduk di bangku SMP.

Adik bungsuku masih sekolah dasar. Penghasilan keluarga hampir tidak ada. Yang tersisa hanyalah sebuah rumah sederhana, dua ekor kambing, dan seorang ibu yang tidak pernah menyerah.

READ  Akselerasi Mutu Pendidikan, Bupati Karo Terima Tim Verifikasi Sekolah Terintegrasi Kemendikdasmen

Emak mengajar di madrasah pada siang hari. Malamnya beliau menjahit pakaian bayi hingga larut, sementara siang hari tetap mengurus rumah tangga. Tidak pernah sekalipun kami mendengar beliau mengeluhkan takdir yang Allah tetapkan. Yang kami lihat hanyalah keteguhan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti disertai pertolongan Allah.

Kini, puluhan tahun telah berlalu. Anak-anaknya telah tumbuh, berkeluarga, dan memiliki kesibukan masing-masing. Namun setiap kali melihat wajah Emak yang mulai dipenuhi keriput, aku semakin menyadari bahwa waktu tidak pernah berhenti.

Dahulu beliau menggendong kami ketika kami tidak mampu berjalan. Kini, kitalah yang harus menopang langkahnya ketika usia mulai melemahkan tubuhnya.

Di zaman sekarang, tantangan berbakti kepada orang tua bukan lagi sekadar persoalan ekonomi. Kesibukan pekerjaan, telepon genggam, media sosial, dan rutinitas yang padat sering kali membuat kita lupa meluangkan waktu untuk sekadar duduk menemani mereka. Padahal, bagi seorang ibu, perhatian anak sering kali jauh lebih berharga daripada pemberian yang mahal.

Sesungguhnya, Emak bukanlah malaikat. Beliau adalah manusia biasa yang Allah anugerahi hati penuh kasih sayang. Namun, pengorbanannya sering kali melampaui apa yang sanggup dibalas oleh anak-anaknya. Emak, sosok cahaya kasih sayang yang tak pernah padam. Beliau rela mengurangi tidurnya agar anak-anak dapat tidur nyenyak, rela menahan lapar agar anak-anak dapat makan dengan cukup, tidak pernah berhenti mendoakan anak-anak-nya, bahkan di sepertiga malam ketika anak-anak terlelap nyenyak, ia bangun untuk bersujud kepada-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya siapakah yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik,

“Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan sekadar menunjukkan besarnya kedudukan seorang ibu, tetapi juga mengingatkan bahwa bakti kepada orang tua tidak mengenal batas usia. Selama mereka masih hidup, jangan pernah menunda untuk membahagiakan mereka.

READ  KH. M. Nuh : Pendidikan Bukan Hanya Ruang Belajar, Tapi Juga Wadah Dakwah

Jika mereka telah tiada, jangan putus mengirimkan doa dan amal saleh untuk mereka.
Setiap keberhasilan yang kita raih hari ini sesungguhnya menyimpan jejak air mata, doa, dan pengorbanan seorang ibu. Tidak ada jabatan, harta, ataupun kehormatan yang mampu menyamai nilai kasih sayang yang pernah beliau curahkan kepada kita.

Selagi Emak masih memanggil nama kita, datanglah. Selagi tangannya masih dapat kita genggam, genggamlah dengan penuh kasih. Dan selagi doanya masih terucap untuk kita, mintalah restunya. Sebab, ketika semua itu telah menjadi kenangan, penyesalan tidak akan mampu mengembalikan waktu.

Semoga Allah ﷻ merahmati seluruh ibu-ibu kaum muslimin, mengampuni dosa-dosa mereka, memanjangkan umur yang penuh keberkahan bagi yang masih hidup, serta menempatkan mereka di surga tertinggi bagi yang telah lebih dahulu kembali kepada-Nya. Aamiin.

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Sosial Masyarakat

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang