MEDAN-wartaindonesia.org. Sabtu sore, Warung Kopi Wak Dollah mulai ramai. Angin bertiup pelan, aroma kopi hitam bercampur dengan harum kue talam buatan Mbak Lastri yang baru matang.
“Silakan… silakan… kue talamnya masih hangat. Jangan cuma difoto, dibeli juga,” kata Mbak Lastri sambil tersenyum. Dadang, yang dikenal sebagai pegawai teladan, baru saja pulang kerja. Bajunya masih rapi. “Wah, Mbak Lastri, kalau kuenya selembut hati yang buat, saya tambah dua potong.”
Mbak Lastri tertawa. “Hati saya lembut, tapi kalau utangnya sudah tiga minggu, bisa keras juga.” Semua yang duduk di warung langsung tertawa.Tak lama kemudian datang Arief, pemilik rental mobil. “Alhamdulillah, akhir pekan begini mobil semua keluar.”
Belum sempat duduk, muncul Narko, sales mobil baru, dengan gaya khasnya. “Kalau rental terus, kapan beli mobil baru, Bang Arief? Saya kasih diskon khusus.” Arief tersenyum.”Kalau saya beli semua mobil baru dari kamu, nanti yang rental pakai apa?”
Gelak tawa kembali pecah. Wak Dollah yang sedang menuang kopi berkata pelan, “Kalian ini, kalau ngobrol soal mobil semangat sekali. Coba kalau ngobrol soal bekal akhirat, semangatnya juga begitu.”
Mendadak suasana sedikit hening. Pak Dermawan yang sejak tadi menikmati kopi hitam mengangguk. “Benar, Wak.” Ia melanjutkan, “Lucunya manusia itu, kalau mau beli mobil baru, surveinya bisa berminggu-minggu. Bandingkan harga, mesin, konsumsi BBM, sampai warna jok.”
“Tapi kalau mau masuk surga, banyak yang tidak sempat ‘survei’.” Dadang tersenyum.
“Itu surveinya bagaimana, Pak?” Pak Dermawan menyeruput kopinya. “Surveinya ada di Al-Qur’an. Di sana sudah dijelaskan jalan menuju keselamatan.”
Mbak Lastri ikut menyahut, “Kalau resep kue saja saya baca berkali-kali supaya tidak gagal, apalagi resep masuk surga.” Semua mengangguk. Pak Dermawan kembali berkata,
“Kadang kita terlalu sibuk mempercantik kendaraan, tetapi lupa memperbaiki hati. Padahal mobil paling mahal pun tidak bisa mengantar kita ke surga.” Narko yang biasanya paling banyak bicara kali ini tersenyum sambil mengangkat gelas kopinya.
“Pak, berarti yang perlu sering diservis bukan cuma mobil.” Pak Dermawan langsung menjawab, “Betul. Hati juga perlu diservis. Servisnya dengan istighfar, shalat yang khusyuk, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak zikir.”
Wak Dollah menambahkan, “Kalau kopi pahit masih bisa ditambah gula. Tapi kalau hati sudah pahit karena iri, dengki, dan sombong, obatnya cuma satu, kembali kepada Allah.”
Warung kembali hening. Beberapa pengunjung yang sejak tadi hanya mendengar percakapan itu ikut menganggukkan kepala. Pak Dermawan menghabiskan sisa kopinya.
“Lihatlah, umur kita setiap hari berkurang. Rambut yang hitam berubah putih, tenaga bagaikan terkuras, teman-teman satu per satu dipanggil Allah. Maka jangan sampai hati tetap keras sementara waktu semakin sedikit.”
Sebelum pulang, Wak Dollah menutup obrolan sore itu dengan kalimat yang membuat semua tersenyum. “Besok-besok tetap datang ngopi di sini. Kopinya memang pahit, tapi mudah-mudahan hati kita semakin manis karena selalu diingatkan untuk mendekat kepada Allah.”
Semua tertawa. “Setuju…!” Suara mereka hampir bersamaan. Dari sudut warung kopi Wak Doll, terlihat cahaya kemerahan, matahari mulai tenggelam, senandung Al Qur’an dari menara Masjid Ar-Rahman mulai terdengar, “kita langsung ke Masjid, laki-laki sholat Fardu harus di Masjid,” ujar pak Dermawan. “iya pak Der, tidak ada alasan sholat Fardu di rumah kecuali uzur,” ujar Narto. “siap” jawab yang lain serentak.
Penulis : Tauhid Ichyar
Pemerhati Sosial Masyarakat









