WARTA INDONESIA — Anggota MPR RI K.H. Muhammad Nuh, M.S.P menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bareng warga adat Melayu di pesisir Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pas hari Senin (14/9/2026). Acara yang dibikin hasil kerja sama bareng Kerukunan Masyarakat Melayu Pesisir (KEMASS Sumut) ini mendudukkan nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai kebudayaan maritim yang dari dulu memang udah jadi identitas anak-anak pesisir.
Empat Pilar MPR RI yang disosialisasikan ini isinya Pancasila, UUD 1945, NKRI, sama Bhinneka Tunggal Ika. Pas ngasih pemaparan, K.H. Muhammad Nuh menegaskan kalau nilai agama Islam sama nilai kebangsaan itu bukan dua hal yang saling hantam, tapi malah saling menguatkan. Cara pandang paten macam ini pas kali sama rekam jejak Senator M. Nuh yang memang kiai, intelektual, sekaligus politikus yang lincah menyambungkan tradisi pesantren sama tantangan zaman sekarang.
M. Nuh juga nyampaikan, kalau ditengok dari sejarah Nusantara dulu, masyarakat Melayu pesisir ini udah dari lama mengambil peran penting dalam kehidupan laut. Orang Laut, komunitas Melayu yang hidup di atas sampan sama perahu, dulunya bertugas jadi armada penjaga jalur pelayaran, prajurit laut, sampai jadi penggerak roda perdagangan kerajaan-kerajaan Melayu. Keberadaan mereka ini betul-betul jadi tulang punggung kekuatan laut kerajaan besar macam Sriwijaya, Malaka, sampai Johor.
Tradisi hukum laut pun lahirnya dari rahim kebudayaan Melayu, nampak dari adanya Undang-Undang Laut Melaka abad ke-14 sampai ke-15 yang mengatur masalah pelayaran, keselamatan kapal, sampai hak dan kewajiban nakhoda ke ABK-nya. Warisan sejarah ini jadi bukti kalau anak Melayu udah punya kesadaran hukum maritim jauh sebelum Indonesia merdeka.
K.H. Muhammad Nuh mengaitkan warisan itu sama makna sila-sila Pancasila, terkhusus Persatuan Indonesia. Menurut beliau, semangat gotong royong warga pesisir pas menjaga laut itu bentuk nyata pengamalan nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sumbangan masyarakat Melayu pesisir ini nggak berhenti di masa lalu aja, wak. Di Kabupaten Batubara, mak-mak istri nelayan di Desa Perupuk udah dilatih ngolah limbah laut macam cangkang kerang, bintang laut, sama gabus laut jadi barang seni yang punya nilai jual tinggi dan bikin makin mantap estetika budaya Melayu. Program yang dibikin dosen-dosen Universitas Negeri Medan ini bukan cuma mendongkrak ekonomi keluarga nelayan, tapi juga makin nguatkan jati diri warga pesisir yang selama ini agak kurang disorot.
Ketua KEMASS Sumut pas nyampaikan kata sambutan ngucapkan terima kasih kali atas terselenggaranya acara ini. Menurut dia, warga Melayu pesisir Langkat punya komitmen kuat untuk terus ikut serta membangun bangsa, terkhusus di sektor kemaritiman sama pelestarian budaya. “Kami ini bagian dari bangsa bahari. Dari lautlah kami belajar pasal persatuan, keberanian, sama gotong royong—nilai-nilai yang memang pas kali ada di dalam Empat Pilar itu,” bilangnya.
Acara yang jalan pas tanggal 14 September 2026 ini dihadiri sama tokoh-tokoh adat, para nelayan, pelaku usaha maritim, sampai budak-budak muda Melayu pesisir. Sosialisasi ini ditutup sama komitmen bareng-bareng untuk menjadikan nilai Empat Pilar sebagai landasan menjaga ekosistem laut Selat Malaka sekaligus makin nguatkan peran masyarakat Melayu pesisir untuk Indonesia.
Penguatan nilai kebangsaan berbasis budaya laut di wilayah pesisir Sumatera Utara ini penting kali dibuat, mengingat kawasan Selat Malaka itu jalur pelayaran kapal dagang paling ramai di dunia. Masalah kawasan, pencurian ikan (illegal fishing), sama rusaknya lingkungan laut jadi tantangan nyata yang kerap dirasakan nelayan lokal dari sepanjang pantai Langkat sampai ke Batubara.
Di sisi lain, potensi ekonomi kreatif dari hasil olahan sampah laut sama hasil tangkapan perikanan masih butuh bimbingan dan bantuan modal yang jelas dari pemerintah daerah maupun pusat. Sinergi antara anggota legislatif macam MPR/DPD RI, akademisi kampus, sama organisasi masyarakat lokal ini jadi modal sosial yang mantap kali untuk memastikan kesejahteraan warga pesisir makin naik, sejalan sama terjaganya kedaulatan laut kita.










