Medan-wartaindonesia.org.Sesungguhnya setiap diri adalah pemimpin, pemimpin atas dirinya, bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin memiliki tanggungjawab individu dan pasti Allah minta pertanggungjawabannya.
Allah ﷻ berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS An-Nisa 4:58)
Menjadi Presiden, gubernur, walikota, Bupati, Camat, Lurah atau Kepala lingkungan pasti bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang kepala keluarga bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya.
Seorang istri bertanggung jawab atas keluarga, anak, dan rumah suaminya. Seorang anak bertanggung jawab atas tugas bakti pada kedua orang tuanya. Bahkan seorang budak atau pembantu sekalipun bertanggung jawab atas rumah tuannya.
Kehadiran pemimpin bukan sekadar fisik, melainkan memiliki keberanian, tegas, serta kemampuan menginspirasi, membangun kepercayaan, dan menggerakkan tim melalui empati, komunikasi efektif, serta ketangguhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…”
Artinya :”Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Sahih al-Bukhari no. 2554 dan Sahih Muslim no. 1829)
Pemimpin yang efektif hadir sebagai panutan, pelayan masyarakat, dan pemicu semangat, terutama saat situasi sulit atau krisis. Pemimpin bukanlah sosok yang bermain aman sepanjang waktu.
Ia harus memiliki keberanian untuk mengambil keputusan penting meskipun menghadapi ketidakpastian. Keberanian ini harus disertai dengan perhitungan yang matang, data yang valid, serta rencana mitigasi risiko.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar di berbagai bidang, mulai dari ekonomi yang membutuhkan stabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan, ancaman korupsi yang merongrong institusi, hingga fragmentasi sosial yang semakin tajam.
Dalam kondisi seperti ini, negara membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin yang dicintai banyak orang; Indonesia membutuhkan pemimpin yang berani dan tegas dalam mengambil keputusan, bahkan jika keputusan tersebut tidak selalu populer di kalangan masyarakat luas.
Pemimpin yang adil mampu mengambil keputusan dan kebijakan berdasarkan porsi yang tepat. Mampu menerapkan kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi semua kepentingan masyarakatnya.
Allah ﷻ berfirman :
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا
وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِ قَا مَ الصَّلٰوةِ وَاِ يْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَا نُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ
Artinya : “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”(QS. Al-Anbiya 21:73)
Sungguh sosok pemimpin yang adil mampu menegakkan, meluruskan, dan memperbaiki segala kerusakan yang terjadi. Kesuksesan kepemimpinan yang adil harus disertai dengan kepemimpinan yang berkarakter.
Seorang pemimpin yang berkarakter kuat adalah sosok yang optimis, memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi. Ketegasan dalam kepemimpinan tidak selalu diterima dengan baik oleh masyarakat, terutama jika keputusan tersebut tidak sejalan dengan harapan jangka pendek masyarakat.
Namun, sejarah membuktikan bahwa pemimpin yang berani mengambil keputusan tegas, bahkan yang tidak populer, sering kali meninggalkan warisan yang lebih bermakna dan bertahan lama.
Dalam sejarah tercatat sosok pemimpin Umar bin Abdul Aziz (682 –720 M) khalifah kedelapan Bani Umayyah yang terkenal karena keadilan, kezuhudan, dan kesederhanaannya, memerintah hanya 2 tahun 5 bulan (717–720 M) namun berhasil menciptakan kemakmuran luar biasa.
Setelah diangkat menjadi khalifah, Umar meninggalkan kemewahan istana dan mengembalikan harta pribadinya serta keluarganya ke Baitul Mal. Ia bahkan menolak menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi, seperti kisah terkenal tentang mematikan lampu istana saat menerima tamu yang bukan urusan negara.
Beliau Khalifah kelima Khulafaur Rasyidin, sosok pemimpin panutan, cicit Umar bin Khattab yang mereformasi pemerintahan, memberantas korupsi, dan menghapus kemiskinan.
- Penulis: Tauhid Ichyar
- Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
- Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.










