🕌 Jadwal Shalat Hari Ini
📍 Mendeteksi lokasi...
Seorang Birokrat Yang Layak Diteladan - Warta Indonesia
Scroll untuk baca artikel
#
AkademikLifestyleLingkunganMedanMediaNasionalPemerintahPolitikReligiSumut

Seorang Birokrat Yang Layak Diteladan

Avatar photo
15
×

Seorang Birokrat Yang Layak Diteladan

Sebarkan artikel ini

Di negeri yang kaya ini, di balik gedung-gedung megah dan ruang-ruang berpendingin udara, ada dua jenis manusia yang duduk di kursi birokrasi. Yang pertama, menjadikan jabatan sebagai kesempatan. Yang kedua, menjadikan jabatan sebagai amanah.

Google Image. Birokrat Teladan

Medan-wartaindonesia.org. Seorang birokrat Pemerintah, pagi itu baru sampai ruangan, sedikit bergegas, ditariknya kursi kerjanya. beliau kelihatan masih muda, sekitar empat puluhan. Setiap pagi ia datang lebih awal. Duduk meja kerjanya, membaca berkas-berkas, meneliti, menyeleksi dan menandatangani, tanpa tertinggal satupun.

Allah ﷻ berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS An-Nisa 4:58)

Ini rutin dilakukan, bukan karena takut pada atasan, tapi karena amanah yang diembannya.  Tak banyak yang mengenalinya. Mungkin karena namanya tidak sering muncul di berita, wajahnya jarang terlihat dimedia. Hanya sebagian kecil orang tahu siapa dirinya. Namun ditengah keluarga, ia adalah suami yang penyayang dan ayah panutan.

Sabda Rasulullah ﷺ :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhori & Muslim)

Ketika berkas-berkas datang, ia tidak melihat siapa yang membawa, orang biasa atau pejabat semuanya diproses dengan adil. Ketika ada titipan, ia menolak dengan halus, sambil berkata dalam hati, “Bagaimana aku akan menjawab di hadapan Allah jika aku menjual keadilan?”

READ  Bupati Deli Serdang Buka Seminar Nasional Strategi Membangun Potensi Guru Kreatif dan Inovatif Yang Digelar JMSI

Suatu hari, seorang rekan berkata, “Kenapa kau begitu lurus? Kita ini orang kecil, tidak akan mengubah sistem”. Ia hanya tersenyum dan menjawab, “Aku tidak sedang memperbaiki sistem, aku sedang menjaga diriku dari panasnya api neraka,” sebutnya.

Ia hidup dengan sederhana. Anak-anaknya tidak hidup mewah, tapi hatinya tenang. Ia tahu, mungkin ia tidak kaya di dunia, tapi ia sedang mengumpulkan kekayaan yang tak akan habis.

Dan kelak, ketika banyak orang datang dengan beban harta haram, ia datang dengan ringan karena ia menjaga amanah, meski sendirian.

Di negeri yang kaya ini, di balik gedung-gedung megah dan ruang-ruang berpendingin udara, ada dua jenis manusia yang duduk di kursi birokrasi. Yang pertama, menjadikan jabatan sebagai kesempatan. Yang kedua, menjadikan jabatan sebagai amanah.

Yang pertama sibuk menghitung, berapa yang bisa diambil. Yang kedua sibuk bertanya, “kerja ini harus dipertanggungjawabkan”. Suap diberi nama ucapan terima kasih. Korupsi dibungkus dengan kata, kebijakan. Dan kezaliman sering disamarkan dengan tanda tangan resmi.

Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah. Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.

Rasulullah ﷺ bersabda :

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

Artinya : “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah. Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.“ (HR. Ahmad 3:135)

Namun di tengah arus itu, masih ada yang bertahan. Ia tahu peluang itu ada. Ia tahu celah itu terbuka. Bahkan mungkin semua orang di sekelilingnya telah terbiasa. Tapi ia memilih berbeda.

Ketika amplop itu datang, tangannya gemetar bukan karena tergoda, tapi karena takut kepada Allah ﷻ yang setiap saat mengawasinya. Harta haram bukan hanya mengotori tangan, tapi juga mengotori do’a-do’anya, keluarga, dan masa depan akhiratnya.

READ  Kampanye Akbar JOZ Membludak, Lalu Lintas di Nagan Raya Macet Selama 2 Jam

Rekan kerjanya pernah mengejeknya, “jangan terlalu suci, ini Indonesia, kalau mau bersih-bersih bukan disini tempatnya. Ia menjawab, “Justru karena ini Indonesia, aku ingin tetap punya alasan untuk bangga di hadapan Allah ﷻ, masih banyak orang idealis di negri ini.”

Sungguh ia sadar, tak mungkin hidup mewah, hidupun apa adanya, bahkan ia tahu, kariernya tidak secepat yang lain. Atau mungkin saja akan tersingkir dari lingkaran kekuasaan, karena ia hanya menjadi batu sandungan bagi birokrat yang berbuat jahat.

Namun ia yakin jabatan itu hanyalah sementara, sedangkan hisab selamanya. Dalam ingatan, sejarah mencatat teladan Umar bin Abdul Aziz, yang mematikan lampu negara ketika berbicara urusan pribadi. Sosok pemimpin amanah yang memimpin sampai tidak ada lagi kefakiran.

Sungguh, satu saat kelak, ketika banyak orang datang dengan membawa beban korupsi yang dulu dianggap biasa, ia datang dengan tangan kosong dari sesuatu yang diharamkan, namun penuh dengan keberkahan, itulah perjalanan birokrat teladan.

  • Penulis: Tauhid Ichyar
  • Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
  • Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang
banner 728x90
1 Berita Terbaru