Scroll untuk baca artikel
#
banner 728x90
Reflektif

Pintu yang Tak Pernah Dikunci

268
×

Pintu yang Tak Pernah Dikunci

Sebarkan artikel ini
Pintu yang Tak Pernah Dikunci

Hujan turun pelan malam itu. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat halaman masjid mengilap oleh pantulan lampu. Aku datang terlambat untuk Isya. Jamaah sudah berdiri, saf telah rapat. Dengan langkah hati-hati, aku menyelinap ke barisan paling belakang, mencoba menenangkan napas yang masih terburu. Aku teringat tentang Pintu yang Tak Pernah Dikunci, simbol harapan dan ketenangan di malam ini.

Di sebelahku berdiri seorang lelaki. Pakaiannya sederhana, wajahnya menua sebelum waktunya. Ketika imam bertakbir, ia mengangkat tangan dengan gemetar. Aku sempat berpikir ia sakit. Namun saat shalat dimulai, aku menyadari getar itu bukan karena tubuh—melainkan hati. Dia mungkin juga merasakan kehadiran Pintu yang Tak Pernah Dikunci dalam hidupnya.

Dalam sujudnya, ia terisak. Tertahan. Seolah ada beban panjang yang akhirnya ia letakkan. Aku jadi kikuk dengan doaku sendiri yang terasa rapi tapi hampa. Dalam keheningan, aku teringat bahwa Pintu yang Tak Pernah Dikunci mengingatkanku akan pentingnya melepaskan beban hidup.

Usai shalat, ia tak langsung bangkit. Duduk lama, menunduk, bibirnya bergerak pelan. Aku tak mendengar apa yang ia ucapkan, tapi aku tahu arah doanya: ke dalam. Ke tempat orang biasanya menyembunyikan penyesalan.

Aku menunggu, lalu menyapanya pelan. “Bapak tidak apa-apa?”
Ia mengangguk. “Alhamdulillah. Justru baru terasa ringan.”

Kami duduk berdampingan. Ia bercerita tanpa kuminta. Tentang hidup yang pernah jauh. Tentang keputusan-keputusan buruk yang dulu terasa benar. Tentang sabar yang sering kalah oleh ego. “Saya kira Allah sudah menutup pintu,” katanya lirih. “Ternyata saya saja yang berhenti mengetuk.”

Ia terdiam, lalu tersenyum kecil. “Ternyata taubat itu bukan soal masa lalu yang bersih. Tapi keberanian untuk pulang meski membawa lumpur.”

READ  Belajar Ikhlas dari yang Pergi

Aku tertegun. Betapa sering kita menunda taubat karena merasa belum pantas. Menunggu menjadi baik dulu, baru mendekat. Padahal mungkin justru mendekatlah yang membuat kita pelan-pelan membaik.

Lelaki itu berdiri. Sebelum pergi, ia berkata, “Saya belajar satu hal. Allah tidak meminta kita kuat. Allah minta kita jujur.”
Aku mengangguk. Kata-kata sederhana, tapi menancap.

Dalam perjalanan pulang, hujan masih turun. Aku berjalan lebih lambat dari biasanya. Mengingat betapa sering aku meminta ampun dengan syarat: nanti, besok, setelah ini selesai, setelah aku siap. Padahal pintu itu tidak pernah dikunci. Hanya saja, aku terlalu sering berpura-pura tidak melihatnya.

Taubat mengajarkanku untuk jujur. Sabar mengajarkanku untuk bertahan. Ikhlas mengajarkanku untuk tidak menawar penerimaan Allah dengan citra diri. Dan malam itu, di masjid yang basah oleh hujan, aku belajar satu hal yang paling sederhana dan paling berat: pulanglah apa adanya.

Karena Allah tidak menunggu kita sempurna. Allah menunggu kita kembali.

Dukung Jurnalisme Warta Indonesia

Dalam segala situasi, Warta Indonesia berkomitmen menghadirkan fakta jernih langsung dari lapangan. Dukungan Anda membantu jurnalisme tetap independen dan terpercaya.

Berikan Apresiasi Sekarang
   
banner 728x90