Medan-wartaindonesia.org. Dalam pandangan Islam, bencana adalah bagian dari takdir Allah SWT berupa ujian, teguran, peringatan, atau azab, yang bertujuan menguji keimanan, melebur dosa, dan menyadarkan manusia. Bencana merupakan sunnatullah yang menuntut kesabaran, tawakal, dan evaluasi diri atas perbuatan manusia yang seringkali merusak lingkungan.
Negeri Nusantara merupakan negeri yang sangat rawan bencana, dengan serangkaian peristiwa besar yang memporak-porandakan berbagai wilayah dari tahun ke tahun. Bencana terjadi didominasi oleh fenomena geologi yaitu gempa, tsunami, erupsi dan hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, karhutla.
Sebagaimana diketahui bencana terbesar dan paling paling banyak menelan korban, pada dua dekade terakhir terjadi gempa dan Tsunami Aceh pada 26 Desember 2024. Bencana ini paling dahsyat dalam sejarah modern Indonesia dengan korban jiwa lebih dari 220.000 jiwa.
Tidak sampai setahun setelah tsunami Aceh, terjadi gempa Nias-Simeulue pada 28 Maret 2025, gempa magnitudo 8,6 yang meluluh lantahkan Nias dan menyebabkan lebih dari 1.300 korban jiwa. Disusul pristiwa gempa Yogyakarta pada 27 Mei 2026. Gempa 6,4 SR ini merusak ratusan ribu rumah dan menewaskan lebih dari 5.700 jiwa.
Pada tahun 2010, terjadi Erupsi Gunung Merapi dibulan Oktober-November 2010. Erupsi terbesar sejak 1872 yang meluncurkan awan panas sejauh 15 km, merusak wilayah Magelang dan Yogyakarta. Dua tahun kemudian 2018, terjadi peristiwa gempa Lombok, Tsunami Palu, dan Erupsi Anak Krakatau. Di tahun tersebut intensitas bencana tinggi. Tsunami Selat Sunda akibat runtuhnya sisi Anak Krakatau merusak pesisir Jawa dan Sumatera.
Lima Tahun kemudian seusai gempa Lombok terjadi lagi diakhir tahun 2025, banjir Bandang dan Longsor Sumatera pada 26 November 2025, bencana ini masuk bencana hidrometeorologi besar akibat Siklon Senyar yang berdampak pada jutaan warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar. (https://bpbd.bogorkab.go.id/)
Dikutip dari situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terjadi di Indonesia, hal ini karena Indonesia berlokasi di pertemuan tiga lempeng tektonik; lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Kondisi ini menimbulkan potensi bencana alam seperti gunung berapi, tsunami, banjir, dan tanah longsor. Beberapa bencana alam yang terjadi bahkan cukup besar untuk sampai terasa atau disoroti oleh negara-negara lain.
Dalam Islam, setiap peristiwa termasuk bencana dianggap sebagai bagian dari takdir-Nya. Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa tidak ada yang terjadi di muka bumi ini kecuali dengan izin Allah. Firman Allah SWT :
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ
Artinya : “Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.” (QS Al-Hadid 57:22)
Rasulullah SAW memberikan pemahaman bagi seorang Mukmin tentang kejadian-kejadian tak terduga ini. Beliau bersabda :
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya : “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapat kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Bencana alam dapat dikategorikan sebagai azab (siksa) dalam konteks historis yang spesifik, terutama yang menimpa umat-umat terdahulu yang secara kolektif menolak kebenaran dan Nabi yang diutus kepada mereka, setelah peringatan berulang kali.
Fenomena azab Allah SWT yang menimpa kaum terdahulu. Mereka durhaka, melampaui batas dan membangkang perintah-Nya. Firman Allah SWT :
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنۢبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُ1سَهُمْ يَظْلِمُونَ2
Artinya: “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara meereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkaan. Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Al-‘Ankabut 29: 40)
Bencana alam adalah keniscayaan, sebagai seorang Muslim ini menjadi i’tibar, harus mampu menyikapi musibah atau cobaan-Nya dengan pandangan yang seimbang.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Ka.Kantor LAZ Persis Sumut
- Anggota Komisi Sosial dan Penaggulangan Bencana MUI Sumut










