KAMPUNG RAKYAT, LABUHANBATU SELATAN – Praktik peredaran gelap narkotika jenis sabu di Dusun Aek Korsit, Desa Pekan Tolan, Kecamatan Kampung Rakyat, kian meresahkan masyarakat setempat.
Warga mendesak aparat kepolisian segera menangkap seorang pria berinisial H alias Heruu yang diduga kuat menjadi pengedar di area perkebunan. Selain itu, warga juga melaporkan kembalinya HZ alias Hamzaah, terduga bandar besar yang sebelumnya sempat lolos dari sergapan petugas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Heruu menjalankan bisnis haramnya dengan pola yang licin, yakni berpindah-pindah lokasi di tengah rimbunnya perkebunan kelapa sawit. Taktik “kucing-kucingan” ini diduga sengaja dilakukan untuk mengaburkan jejak dari pantauan petugas. Mirisnya, para pembeli dikabarkan nekat masuk ke area perkebunan demi menjemput langsung barang haram tersebut dari tangan Heruu.
Keresahan warga kian memuncak menyusul munculnya kembali sosok HZ yang diduga kuat sebagai pemasok utama sabu kepada Heruu. HZ sendiri bukan nama baru; ia merupakan Target Operasi (TO) yang sempat berhasil meloloskan diri saat rumahnya digerebek oleh personel Polsek Kampung Rakyat beberapa waktu lalu.
Seorang warga Dusun Aek Korsit yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekhawatirannya melihat HZ yang kini mulai berani menampakkan diri di lingkungan mereka.
“Kami melihat HZ sekarang sering berada di rumahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dulu dia sempat kabur saat digerebek polisi. Kami jadi resah, mengapa dia bisa bebas berkeliaran lagi sementara bisnis sabunya diduga terus berjalan melalui perantara si Heruu,” ungkap warga tersebut kepada awak media, Minggu (19/1/2026).
Masyarakat Desa Pekan Tolan kini menggantungkan harapan besar agar Polsek Kampung Rakyat segera mengambil langkah nyata dan tegas. Mereka meminta pihak berwenang tidak hanya memburu Heruu di area perkebunan, tetapi juga melakukan upaya jemput paksa terhadap HZ yang dilaporkan sudah kembali menetap di kediamannya.
“Harapan kami cuma satu, Polsek Kampung Rakyat segera tangkap mereka. Jangan sampai kampung kami hancur karena narkoba yang dijual secara terang-terangan di kebun sawit,” tegas warga tersebut menutup pembicaraan.
(Red/BAR)










