Medan – Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran generasi muda dalam pembangunan ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi A DPRD Tanjungbalai, Ilham Fauzi, S.H., M.H., yang menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, baik dari faktor eksternal maupun domestik. Ketegangan geopolitik dunia, fluktuasi suku bunga global, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tekanan yang harus dihadapi secara bersama.
Di sisi lain, Indonesia juga masih menghadapi sejumlah persoalan struktural, seperti tingginya biaya logistik, ketergantungan terhadap ekspor komoditas mentah, serta perlunya peningkatan kepastian iklim investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Menurut Ilham, pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Upaya tersebut antara lain melalui kebijakan fiskal dan likuiditas, penyesuaian suku bunga acuan oleh Bank Indonesia, pengendalian inflasi daerah, program perlindungan sosial, hingga reformasi struktural yang mencakup efisiensi belanja negara dan pembenahan sistem perpajakan serta kepabeanan.
“Berbagai kebijakan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif bagi dunia usaha,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, pelaksanaan Munas XVIII HIPMI di Bandar Lampung pada 10–11 Juni 2026 mendapat apresiasi sebagai forum penting yang mempertemukan para pengusaha muda dari seluruh Indonesia untuk menentukan arah organisasi sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah.
Ilham menilai, semangat nasionalisme harus menjadi landasan utama bagi para pengusaha muda dalam menjalankan aktivitas usaha. Menurutnya, stabilitas ekonomi dan politik merupakan faktor penting yang harus dijaga bersama agar Indonesia tetap mampu menghadapi berbagai tantangan global.
“Pengusaha muda memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi. Dengan semangat nasionalisme yang kuat, mereka dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional serta mendorong pertumbuhan yang inklusif,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa di era digital saat ini, berbagai informasi yang tidak terverifikasi kerap memicu perpecahan, provokasi, hingga polarisasi di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kepercayaan investor dan memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Oleh karena itu, lanjutnya, nasionalisme tidak boleh berhenti pada tataran retorika semata. Semangat tersebut harus diwujudkan melalui praktik bisnis yang profesional, berintegritas, dan taat terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pesan serupa juga disampaikan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, saat membuka Munas XVIII HIPMI pada 10 Juni 2026.
Pada Munas tersebut, Ade Jona Prasetyo ditetapkan sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI periode 2026–2029 melalui mekanisme aklamasi. Penetapan tersebut mencerminkan kepercayaan besar dari para anggota HIPMI terhadap kepemimpinannya dalam membawa organisasi semakin maju dan berkontribusi bagi pembangunan nasional.
Ilham optimistis kepemimpinan baru HIPMI akan mampu memperkuat kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Menurutnya, sinergi tersebut tidak hanya akan memberikan manfaat bagi organisasi, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagai penutup, Ilham mengutip pemikiran ekonom senior Indonesia, Sumitro Djojohadikusumo, yang menyatakan bahwa “tanpa kemandirian ekonomi, kemerdekaan hanyalah seremoni.” Pesan tersebut dinilai tetap relevan sebagai pengingat bahwa kemandirian ekonomi merupakan fondasi utama bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.









