MEDAN-wartaindonesia.org. Tempo Doeloe, tempat ni cume beralas tikar pandan, atap rumbia, kipas angin pun mengharap hembusan angin laut. Sekarang? Dah tersusun meja kayu licin, bilik pun dah ada yang ber-AC. Tapi isinyo tetap tak berubah, kopi hitam pahit, gorengan hangat, sama kombur yang buat mata tak tewas mengantuk.
Kedai Kopi Wak Abu ni betul-betul “naik kelas”. Bukan sebab tiang dindingenyo disapu cat baru, tapi sebab tempat ni dah terkumpul orang-orang sekolahan.
Kalau biasonyo yang tecongok dekat situ budak-budak tu jugak, si Ujang, si Udien, si Ucup, si Irul… Hari ni kedatangan new comer gaya Bule. Ada Pak OK, Bang Beko, Pak Mulyo, Ambo, Pak Sukai, Hendar, sama yang paling setia dari zaman tebing runtuh, Bang Beko dan Bang Topik.
Baca Juga :
- Sosok Pemimpin Panutan
- Belajar Ikhlas dari yang Pergi
- Wakil Dewan Pertimbangan MUI Sumut Serahkan Majalah Media Ulama ke Wamen
- Warung Kopi Wak Dollah : “Menjaga Persahabatan”
“Topik hari ni agak berat, Wak Abu. Berat di pikiran, tapi lincah di lidah sebab disiram air kopi. “cammano kito tak risau bahas bencana?” buka Bang Beko sambil menyeruput kopinyo pelan.
“Tengoklah berita semalam, tanggal 15 Agustus 2026, Nagekeo dekat NTT sano diguncang gompa 7.7 skala richter bertambah tsunami. Rumah rata tanah, muka orang sano pada pucat ketakutan, putih semua. Sampai sekarang dah 4.256 kali gempa susulan, yang berasa gemetar di badan kito ajo dah 118 kali.”
Hening seketika. Bunyi sendok berlaga dengan cangkir terdengar nyaring. “Kito doakan saudara kito dekat sano,” lanjut Bang Beko. “Semoga tak adolagi korban melayang. Tapi cerobongkan dulu ke rumah kito sendiri dekat Medan nih. Kalau bencana godang atau gempa Sesar Sumatra membalas ke tempat kito, kito ni dah siap apo belom?”
Haluan kombur pun berbelok. Dari duka orang NTT, balik menengok cermin diri sendiri. “Format mitigasi kito di Medan ni macam mano?” tanya Pak OK.
“Siap tak warga kito? Siap tak orang pemegang kuasa? Rumah sakit macam mano? Sirine peringatan dini tu bunyi betul-betul pas darurat, apo cuma jadi pekak telinga?”
“Dah tu, kalau air laut naik atau sungai meluap, tempat pengungsian nak ditarok di mano?” timpal Pak Mulyo. “Siapo pula yang nak mengubati hati warga yang trauma?”
Hendar menggelengkan kepala. “Haa… ni yang paling payah. Nak nemukan orang yang paham bencana sama orang yang pegang kuasa tu, macam mencari jarum dalam tumpukan beras!”
Semua tertawa kecik. Ketawa pahit, sepahit ampas kopi tanpa gula. Bang Topik menutup kombur sambil mengacau sisa ampas kopi dekat dasar gelas.
“Dahlah. Kito memang tak biso melarang bumi bergetar atau hujan turun dari langit. Tapi kito biso milih untuk paham risiko sama saling jaga sesama warga. Besok kito berkombur lagi dekat sini.”
Wak Abu menyahut dari balik meja kasir sambil tersenyum lebar. “Besok, siapopo yang membawa ide mitigasi betul-betul untuk kampung kito, kopinyo tak usah bayar alias gratis!” Sekedai kopi pun tertawa terpingkal-pingkal.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat








