Medan-wartaindonesia.org. Aroma harum kopi Robusta terasa menyegarkan, barengan dengan asap rokok kretek Jawa dengan cengkeh terbaik Maluku. Di pojok warung, bendera merah putih berukuran sedang terpasang sedikit miring di tiang bambu. Kipas angin berputar pelan diwarung kopi Wak Dollah.
Sambil mengelap meja, “Niatnya sih, saya mau pasang bendera dari tanggal 1, eh benderanya ngumpet dilemari, bongkar-bongkar lupa meletakannya. Dimana gitu, eh baru ingat terseret banjir bulan lalu,” ujar mbak Lastri nyengir.
Dadang sambil menyeruput kopi, “Tenang, Mbak Las, nanti ada bantuan dari kelurahan. Yang penting kan semangatnya. Pejabat kita aja pasang spanduk Kemerdekaan segede gerbang lima ruko, tapi pakai uang rakyat, benderanya aja yang gede, ya mudah-mudahan perhatiannya ke kita gak imut-imut,” sebut Dadang.
“Halah Dang. Bukan gak imut-imut lagi, tapi microscopic!, sahut Mbak Lastri. Kemarin aku ke kantor kelurahan mau ngurus surat jalan anak ku. Petugasnya bilang, ‘Bu, maaf listrik padam, sistem down.” ujarnya. ” Lho tuh ada mesin genset!”.
Pak Dermawan yang mendengar ocehan Mbak Lastri, tersenyum tenang sambil merapikan kacamata tebal, plus 350 nya. “Kalian ini kalau ngomong suka pas banget di hati. Tapi tahu tidak? Rakyat Indonesia itu jumlahnya hampir 280 juta jiwa. Dan tebak siapa yang paling banyak ‘menanggung’ biaya hidup negara ini?”
Arief yang duduk agak pojokan nimbrung sambil nyomot pisang goreng,”Ya para Grazy Rich, Sultan-sultan lah, Pak Der!. Kan mereka banyak memiliki perkebunan, pertambangan, pabrik, proyek mereka triliunan!,” ujar Arief serius.
Pak Dermawan geleng-geleng kepala. “Salah besar, Rief!. Dalam struktur APBN negara kita, penerimaan pajak itu menyumbang sekitar 80% sampai 82% dari seluruh pendapatan negara. Dan pajak itu ditarik dari siapa?, dari kita ini lah, saya, Wak Dollah, Mbak Lastri, Dadang, Arief, Narto. Artinya dari 280 juta rakyat Indonesia!. Beli motor kena pajak, makan di resto kena pajak, gaji dipotong pajak. Kita ga tahu juga, apa Wak Doll diam-diam narik pajak dari kita bayar ngopi ini. Rakyat kecil ini ya tiang penyangga utama negara!”, ujar pak Dermawan bercanda, sambil senyum-senyum.
Dadang tepuk jidat, “Walah! Berarti 82% APBN itu keringat rakyat biasa?! Terus sektor lain kayak pertambangan, minyak, dan gas bumi dapat berapa, Pak Der?”
“Sisa pendapatan negara lainnya itu dihimpun lewat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), jumlahnya cuma sekitar 18%. Nah, kekayaan tambang yang dikeruk habis-habisan yang menyisakan lingkungan yang rusak itu oleh para Konglomerat masuknya ke porsi yang 18% itu bareng dividen BUMN dan lainnya,” terang pak Dermawan.
Narko mendengarkan detail APBN yang disampaikan Pak Dermawan hanya bisa tertawa getir. “Oalah! Hasil bumi dikeruk konglomerat cuma nyumbang kisaran 18%, tapi rakyat 280 juta jiwa harus nombok sampai 82% lewat pajak?! Birokrasi dan aturan hukumnya bener-bener gak pro rakyat!, konon katanya, pengusaha tajir banyak yang malah ngemplang pajak,…eh malahan dilindungi,”
Mbak Lastri yang bertolak pinggang nyelutuk, terus Narko uang pajak yang banyak itu dikorup pula, serem dan sadis kali ya. Pantas aja uang pajak pas ngurus fasilitas umum ruwetnya setengah mati!, padahal uangnya dari rakyat, tapi pas rakyat butuh bantuan birokrasi, malah disuruh putar-putar kayak tukang sorong dipasar induk !”.
Wak Dollah nongol dari balik kompor membawa piring gorengan, “Hus!. Jangan cuma pinter protes angka APBN! Ini pisang goreng merdeka. Tapi ingat, makan dua bayar dua, ya! Jangan pakai jurus birokrasi makan lima ngaku dua, terus bayarnya minta diskon 82%!”
Arief dengar ocehan Wak Dollah nyengir, “Wak, ini pisang gorengnya agak keras… ,tapi kayaknya gak lebih keras dari hati pejabat yang enggan mempermudah urusan rakyat miskin nih!”
Wak Dollah nunjuk pakai sotel,” kamu tuh Rief ngomongin APBN triliunan detail kali, tapi bon kopi pagi tadi…., ah…, Wak Dollah buka rahasia aja, nih saya traktir semua, gak ada yang ngebon ya, nanti Wak Dol gak bisa bayar pajak tuh. Gimana mau merdeka secara finansial, ngopi aja kadang masih ngebon di Warung Wak Dollah !”.
Dermawan menyerup kopinya dengan pelan. “Tapi ingat, teman-teman. di usia kemerdekaan ini, tugas kita tetap kritis. Boleh rakyat menyumbang porsi terbesar buat negara, tapi pikiran kita jangan sampai dijajah oleh rasa acuh tak acuh. Mari jaga akal sehat kita di Warung kopi ini.”
Dadang mengangkat cangkir kopinya, “Setuju, Pak Der! Mari kita tos cangkir! Merdeka dari birokrasi korop, birokrat ruwet, merdeka dari ketidakadilan,!”
Pak Dermawan ikut menepuk meja. “Dan hari ini kita Merdeka bersama, Arief traktir suguhan Wak Dollah, dia yang bayar. Serentak mereka berucap.”Merdeka!”
Penulis : Tauhid Ichyar. Pengamat Sosial & Lingkungan









